Perbedaan Lemak dan Minyak


Tulisan ini dibuat sebenarnya karena sedikit “tersentil” dengan betapa seringnya pertanyaan ini diajukan. Pertanyaan itu adalah “Apa sih bedanya lemak dan minyak?” Jawabannya pun sebenarnya sederhana saja, namun dibalik kesederhanaan itu, timbul beberapa pertanyaan lagi yang mengusik rasa keingintahuan saya. Namun, sebelum membahas lebih jauh perbedaan lemak dan minyak, alangkah lebih baiknya bila kita membahas terlebih dahulu (secara singkat) apa itu lemak dan minyak.

    Lemak dan Minyak adalah senyawa ester non-polar yang tidak larut dalam air, yang dihasilkan oleh tanaman dan hewan. Dalam pengolahan pangan, lemak dan minyak memiliki beberapa fungsi yang penting yaitu sebagai sumber energi, berkontribusi pada pembentukan tekstur dan mutu sensori produk pangan, medium pindah panas dalam proses penggorengan, serta pelarut bagi vitamin esensial larut lemak (A, D, E dan K).

    Lemak dan minyak ialah kelompok lipid sederhana dari ester gliserol yang disusun oleh asam lemak dan gliserin. Dalam struktur lemak dan minyak, molekul gliserin mengikat tiga rantai asam lemak dan membentuk senyawa ester yang bersifat non polar. Panjang struktur molekul lemak dan minyak tergantung pada jenis asam lemak yang terikat pada gliserin. Di bawah ini dapat kita lihat struktur kimia lemak/minyak.

Dan, akhirnya kita kembali pada pertanyaan awal, “Apakah perbedaan antara lemak dan minyak itu sendiri?”

      Sebagai mahasiswa teknologi pangan, saya sering mendapatkan pertanyaan tentang hal itu. Seperti yang kita tahu, perbedaan terletak pada wujudnya di suhu ruang, lemak berbentuk padat dan sebaliknya minyak berbentuk cair pada suhu ruang. Namun, apakah yang menyebabkan adanya perbedaan fisik tersebut?? Perbedaan fisik ini disebabkan oleh komposisi asam lemak penyusunnya. Lemak mengandung asam lemak jenuh lebih banyak, sedangkan minyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang lebih banyak. Karena titik leleh lemak jenuh lebih tinggi dari lemak tidak jenuh maka lemak cenderung berbentuk padat, sedangkan minyak berbentuk cair pada suhu ruang.

    Titik leleh (melting point) merupakan sifat fisik dari asam lemak yang penting. Titik leleh menunjukkan suhu dimana lemak/minyak berubah fase dari fase padat menjadi fase cair. Titik leleh asam lemak akan menentukan titik leleh dan sifat kristalisasi dari lemak yang disusunnya. Titik leleh asam lemak dipengaruhi oleh panjang rantai karbon, jumlah ikatan rangkap dan konfigurasi cis dan trans.

  • Jumlah Atom Karbon

Titik leleh asam lemak akan semakin naik dengan meningkatnya jumlah atom karbon yang terikat. Pada jumlah atom karbon yang sama, titik leleh asam lemak dengan ikatan jenuh lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak tidak jenuh.

  • Jumlah ikatan rangkap

Semakin banyak jumlah ikatan tidak jenuh (ikatan rangkap) maka titik leleh akan semakin rendah. Sebagai contoh, titik leleh asam lemak C 18:0, C 18:1, C 18:2, dam C 18:3 berturut-turut ialah sebagai berikut 70°C, 16°C, -5°C dan -11°C.

  • Konfigurasi cis dan trans

Isomer asam lemak tidak jenuh dengan konfigurasi ciss memiliki titik leleh yang lebih rendah dibandingkan dengan konfigurasi trans, misalnya asam oleat (cis-9-Oktadekanoat) memiliki titik leleh 14°C, sedangkan asam elaidat (trans-9-Oktadekanoat) pada 43,7°C.

Terakhir, sifat fisik lemak dan minyak dari sumber yang berbeda umumnya berbeda karena perbedaan dalam proporsi asam lemak penyusunnya dan struktur kimia dari masing-masing trigliserida.

Jadi, (calon) food technologist-ers sudah dapat beberapa pencerahan kan? Jadi kalau ditanya “apa perbedaan lemak dan minyak?” jawabannya disempurnain jangan cuma “lemak bentuknya padat pada suhu ruang, dan minyak bentuknya cair pada suhu ruang”. Hehehe… 🙂

Sumber : Kusnandar, Feri. 2010. Kimia Pangan Komponen Makro. Dian Rakyat. Jakarta.

See you at my next post ! Jangan lupa komen yaaa !

Perbedaan NVP dan IRR

 

Present Value (NPV) merupakan selisih antara present value dari benefit dan present value dari biaya-biaya. Menurut Kasmir (2003:157) Net Present Value (NPV) atau nilai bersih sekarang merupakan perbandingan antara PV kas bersih dengan PV Investasi selama umur investasi. Sedangkan menurut Ibrahim (2003:142) Net Present Value (NPV) merupakan net benefit yang telah di diskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital (SOCC) sebagai discount factor. Sementara Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan bahwa tingkat bunga yang akan menghasilkan present value dari sebuah proyek atau usaha sama dengan nol. Halim (2003:140) memberikan definisi Internal Rate of Return (IRR) sebagai ” tingkat bunga yang dapat membuat Net Present Value dari sebuah usaha sama dengan nol, karena present value dari cash flow pada tingkat bunga tersebut sama dengan internal investasinya”.


 

Konser-Konser Musik Internasional di Jakarta


Kota Jakarta, tidak dapat dipungkiri telah menjadi suatu kota yang aktif dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Terutama di bidang musik, yakni dalam hal penyelenggaraan konser-konser music musisi kelas dunia yang hampir semuanya diselenggarakan di Jakarta.

Jakarta, sebagai ibukota telah menjelma menjadi pusat semua kegiatan ekonomi. Arus perputaran uang sangat cepat terjadi. Masyarakat berbagai kalangan tinggal di Jakarta, dari kalangan jetset, menengah, hingga yang masih berada di level ekonomi bawah pun hidup di Jakarta. Berbagai aktivitas dilakukan di kota ini. Tak hanya sekedar aktivitas ekonomi dan perdagangan saja, perkantoran, bahkan aktivitas seni pun mulai menunjukkan geliatnya dalam arus perputaran ekonomi kota Jakarta.

Seni, semua manusia membutuhkannya. Sungguh tidak jujur bila seorang berkata dalam hidupnya dia tidak butuh seni. Karena hampir semua lingkungan di sekitarnya adalah seni. Guruh Soekarno Putra berkata “tanpa seni, dunia hampa”, ada benarnya.

Hal ini dilihat oleh para promoter music atau orang-orang yang bergerak dalam penyelenggaraan konser-konser music sebagai suatu peluang bisnis. Di tengah kehampaan rutinitas kerja Kota Jakarta pasti banyak menimbulkan rasa kejenuhan, terutama bagi para aktivisnya yang terdiri atas para eksekutif muda dan kalangan menengah atas dan salah satu penghilang rasa jenuh itu ialah performance music, dengan segala atraksi dan hiburan yang ditampilkan oleh para pekerja seni.

Selalu saya pertanyakan kenapa konser musisi kelas dunia selalu dan hampir selalu dilakukan di Jakarta. Mengapa tidak di Bandung? Kota saya saat ini sedang menimba ilmu sebagai mahasiswa. Karena hampir setiap konser dilakukan di Jakarta, hal ini menimbulkan kesulitan bagi saya, sebagai penikmat music untuk menonton konser yang saya inginkan di Jakarta di tengah rutinitas kuliah yang begitu padat.

Saya baru mengerti setelah saya melihat bahwa memang peluang menjadi penyelenggara konser di Jakarta cukup menggiurkan, terutama dari segi penjualan tiket yang tentu saja lebih mudah dilakukan di Jakarta, sebagai pusatnya. Harga tiket konser, seperti kita ketahui tidak terlalu murah. Untuk mendapatkan satu tiket kelas tribun, seorang penonton harus merogoh kocek minimal 350.000-500.000 (tergantung konsernya), dan untuk kelas diatasnya harus dirogoh kocek yang lebih dalam lagi. Saya mendengar dari teman saya, bahwa untuk mendapatkan satu tiket tribun Konser Hitman David Foster harus merogoh kocek hingga 1,3 juta. Angka yang fantastis untuk suatu tiket konser kelas tribun.

Hanya orang-orang kalangan menengah keatas sajalah yang dapat membelinya. Itu pointnya. Memang tidak semua kalangan menengah keatas tinggal di Jakarta, ada pula yang tinggal di Bandung dan kota-kota penyangga Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor. Namun, pada zaman dimana transportasi begitu mudah, tentu saja akan lebih mudah bila konser dilakukan di Jakarta, sebab begitu banyak kendaraan transportasi yang tersedia untuk menuju Jakarta. Apalagi setelah dibangunnya tol Cipularang. Banyak orang bilang, jarak Jakarta-Bandung hanya 2 jam saja.

Selain hal tersebut hal yang menndukung penyelenggaraan Konser di Jakarta ialah tersedianya berbagai Concert Hall berkapasitas besar untuk dijadikan lokasi konser. Diantaranya JCC, TIM, Gedung Kesenian Jakarta, Hailai, Tennis Indoor Senayan, Istrora dll. Rata-rata lokasi tersebut berlokasi strategis dan mudah dijangkau dengan catatan tidak terjadi kemacetan parah. Di Bandung saja saat ini, lokasi yang cocok dijadikan Concert Hall hanyalah Sabuga saja, yang digunakan untuk konser Maher Zein. Namun, lokasi Sabuga bisa dikatakan tidak strategis karena jauh dari pusat kota, akses tol dan rawan kemacetan.

Oleh karenanya wajar saja, bila Jakarta memang menjadi pusat konser musisi dunia. Hal ini patut kita syukuri pula, sebab setelah dilanda isu travel warning beberapa tahun lalu akibat peristiwa terror bom, bencana alam dll, Indonesia sepi konser musisi internasional. Bahkan para promoter pun mengeluhkan sulitnya mendatangkan artis/musisi Internasional ke Indonesia. Namun saat ini, musisi datang dan pergi dalam hitungan jam di Kota Jakarta, dengan perputaran uang dapat mencapai angka ratusan juta rupiah. Dalam hal ini, dapat diberi contoh Owl City, hanya tampil selama dua jam di Tennis Indoor Senayan Oktober lalu, berapa uang yang beputar selama konser itu?? Kota Jakarta telah menjadi kota transit bagi musisi Internasional. Luar biasa. So who is next??? J


Music Enthusiast


Mulai terpikir olehku sejak rabu itu, bahwa memang menjadi musisi bukanlah jalanku…

Rabu kelabu itu, aku merasa kemampuan bermusikku sungguh jauh dari harapan..

Bukan karena aku mudah menyerah, tapi rasanya entah kapan aku bisa mencapai levelnya..

Aku merasa begitu takut pada les music itu dengannya,, tampaknya music begitu menakutkan bagiku hari itu..

Sudah berkali-kali aku mengulang lagu karya Mozart, Minuet in F itu di depannya,, dan berkali-kali pula aku salah.. Ya salah,, hingga akhirnya kata-kata kasar keluar dari mulutnya,, dia langsung keluar ruangan dan memainkan entah apa di piano ruangan sebelah –yang sangat cepat..

Aku tak mau music yang seperti itu, aku memainkan music untuk membuat hatiku senang, bahagia, melepas beban-beban kuliah, bukan untuk menambah bebanku..

Lalu kutanyakan padanya, perlu waktu berapa lama baginya hingga memiliki kemampuan piano prima seperti itu, berapa waktu latihannya per hari,,

Sebagai mahasiswa jurusan music, dia bilang bahwa piano ialah segalanya untuknya.. dia akan rela berlatih berjam-jam demi menyempurnakan kemampuan pianonya itu, dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam, terus-menerus berlatih, hingga akhirnya sakit…

Dan kusadari, tak kan sanggup aku seperti dia, walau aku pun snagat mencintai piano dan music,, sebab aku bukanlah mahasiswa music seperti dirinya,, jurusanku menuntut waktu yang banyak untuk mengerjakan berbagai tugas, jadwal kuliah yang padat dan sangat melelahkan dan tentunya tidak mungkin aku berlatih dengan jam seperti dia…

Dan sejak itu kusadari, mungkin menjadi musisi bukanlah jalan bagiku,, mencintai music tidaklah selalu harus menjadi musisi,, menjadi seorang music enthusiast, pengapresiasi berbagai karya music, mendukung karya-karya para musisi bermutu juga dapat menjadi jalan bagiku untuk menyalurkan kecintaanku kepada music, disamping tentu saja terus berlatih memainkan alat music, terutama piano dan keyboard…

Mencintai music tidaklah harus selalu menjadi musisi, dan tidaklah selalu harus kuliah music formal,, Ada berbagai cara lain untuk melakukannya!!

Analisis Kriteria Investasi dengan NPV dan IRR

Terdapat dua macam metode analisis investasi yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net Present Value (NPV) dan yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam melakukan investasi tentunya harus dilakukan perbandingan antara investasi yang satu dengan yang lainnya. Investasi terbaik akan didapat apabila NPV dan IRR sama-sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan bahwa IRR dengan nilai yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan nilai IRR yang lebih rendah, walaupun demikian hal ini tidak selalu, karena nilai IRR umumnya sangat tergantung pada nilai discount factor yang berlaku.

1. Net Present Value (NPV) dan Present Value (PV)

Net Present Value (NPV) ialah net benefit yang telah didiskon dengan menggunakan social oppurtunity cost sebagai diskon faktor. Dalam pengertian lain, NPV didefinisikan sebagai selisih antara investasi sekarang dengan nilai sekarang (present value/PV) dari proyeksi hasil-hasil bersih masa datang yang diharapkan. Adapun Present Value (PV) ialah nilai sekarang dari suatu jumlah uang dari proyeksi hasil bersih periode mendatang tanpa memperhitungkan nilai investasi sekarang atau original outlays (OO).

Pendekatan analisis investasi dengan metode NPV ialah dengan konsep cash flow (cash in/cash out).
Pada NPV, semua future cash flow dikonversikan menjadi suatu nilai ekuivalen pada waktu tahun ke nol dengan menggunakan teknik diskounting. NPV merupakan penjumlahan dari masing-masing present value (PV) dari net income yang diproyeksikan tiap tahun. Setiap future income didiskon, artinya dibagi dengan bilangan yang merepresentasikan oppurtunity cost dari modal yang dimiliki mulai tahun ke nol hingga tahun dimana income diterima atau dibelanjakan.

Rumus NPV :


Rumus NPV lainnya :


Dimana : PV = Present value, OO = Original Outlays (investasi awal)

Kriteria yang dipergunakan dalam penilaian NPV adalah sebagai berikut :

1).     Jika NPV = 0 (nol), maka hasil investasi (return) usaha akan sama dengan tingkat bunga yang dipakai dalam analisis, atau dengan kata lain usaha tidak untung maupun rugi (impas).

2).     Jika NPV < 0, yakni bernilai negatif, maka investasi tersebut rugi atau hasilnya (return) di bawah tingkat bunga yang dipakai.

3).    Jika NPV > 0, yakni bernilai positif, maka investasi tersebut mengun-ungkan atau hasilnya (return) melebihi tingkat bunga yang dipakai.

Untuk membandingkan dua proyek yang mana akan dipilih dapat dilakukan dengan membandingkan kedua nilai NPV proyek, dimana NPV proyek yang lebih besar yang akan diambil.

2. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return ialah suatu tingkat discount rate yang menghasilkan NPV = nol. Nilai IRR berkaitan dengan SOCC (Social Opportunity Cost of Capital) atau discount factor. Dalam hal ini berlaku :

  1. Jika IRR > SOCC, maka proyek dikatakan layak
  2. Jika IRR < SOCC, maka proyek tidak layak
  3. Jika IRR = SOCC, berarti proyek berada pada BEP.

Untuk menentukan besar nilai IRR harus dihitung dulu NPV1 dan NPV2 dengan cara coba-coba. Jika NPV1 bernilai positif maka discount faktor kedua harus lebih besar dari SOCC dan sebaliknya. Nilai IRR berada diantara Nilai NPV positif dan nilai NPV negative, yaitu NPV = 0.


Analis kelayakan investasi Contoh 2 berdasarkan NPV dan IRR :

Pimpinan perusahaan akan mengganti mesin lama dengan mesin baru karena mesin lama tidak ekonomis lagi, baik secara teknis maupun ekonomis. Untuk mengganti mesin lama dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 75.000.000,. Mesin baru mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun dengan salvage value berdasarkan pengalaman pada akhir tahun kelima sebesar Rp. 15.000.000,. Berdasarkan pengalaman pengusaha, cash in flows setiap tahun diperkirakan sebesar Rp 20.000.000, dengan biaya modal 18% per tahun.

1. Analisis Kelayakan Berdasarkan NPV

-Analisis NPV berdasarkan diagram cash flow :


P    = – 75.000.000 + 20.000.000(P/A, 18%,5) + 15.000.000(P/F, 18%,5)

= -75.000.000 + 62.544.000 + 6.556.500

= – 5.889.500

Nilai P merupakan nilai NPV, maka karena nilai NPV < 0 disimpulkan bahwa pergantian alat tidak feasible.

-Analisis NPV berdasarkan rumus :


Pembelian alat tidak feasible karena nilai PV lebih rendah dibandingkan nilai Original Outlays (OO) = Rp. 75.000.000

Bila dilihat nilai NPV, maka NPV = PV – OO = 69.100.059- 75.000.000 = -5.889.941 → NPV < 0, maka penggantian alat tidak layak.

2. Analisis Kelayakan Berdasarkan IRR

Dari Contoh 2, IRR merupakan tingkat bunga yang menyamakan antara harga beli asset (Original Outlays) dengan present value. Jadi untuk mendapatkan nilai PV = OO, harus dicari dengan menggunakan dua tingkat bunga. Tingkat bunga I menghasilkan PV < OO dan tingkat bunga II menghasilkan PV > OO. PV1 dengan Df = 18% berdasarkan perhitungan ialah Rp. 69.100.059. Karena NPV1 bernilai negatif, maka discount factor kedua harus lebih kecil dibanding SOCC. adapun PV2 dengan Df = 14 % perhitungangannya ialah sbb :



Maka NPV2 = 76.452.149 – 75.000.000 = 1.452.149

Maka nilai IRR-nya ialah sebagai berikut :


IRR = 18 + ((-5.899.500)/(-5.899.500-1.452.149)) x (18-14)

       = 18 + 0,8025 (-4) = 18 + (-3,21) = 14,79%

Nilai IRR < SOCC (yakni Df1 = 18%), maka proyek penggantian alat tidak feasible.

Latihan Soal Ekonomi Teknik

1. Biaya pemeliharaan dan pengoperasian mesin pada akhir tahun pertama adalah Rp. 155.000,00 dan naik tiap tahun sebesar Rp. 35.000,00 selama 8 tahun.

Berapakah uang yang harus disediakan sekarang untuk pengoprasian dan pemeliharaan mesin tersebut, jika dengan suku bunga diperhitungkan 6% per tahun?

Jawab:

F1= 155.000

F2= 190.000

F3= 225.000

F4= 260.000

F5= 295.000

F6= 330.000

F7= 365.000

F8= 400.000

P = F1(P/F,i,n) + F2(P/F,i,n) + F3(P/F,i,n) + F4(P/F,i,n) + F5(P/F,i,n) + F6(P/F,i,n) + F7(P/F,i,n) + F8(P/F,i,n)

P = F1(P/F,6%,1) + F2(P/F,6%,2) + F3(P/F,6%,3) + F4(P/F,6%,4) + F5(P/F,6%,5) + F6(P/F,6%,6) + F7(P/F,6%,7) + F8(P/F,6%,8)

P = 155.000 (0,9434) + 190.000 (0,8900) + 225.000 (0,8396) + 260.000 (0,7921) + 295.000 (0,7473) + 330.000 (0,7050) + 365.000 (0,6651) + 400.000 (0,6274)

P = Rp. 1.657.008,00

 

2.       Bapak Budi memutuskan untuk menabung sebesar  $8000 dalam 10 tahun dengan melakukan kegiatan menabung per tahun dengan bunga 4,5%, hari ini sudah 6 tahun berjalan dan bunganya telah naik menjadi 5,5%.

Berapa banyak dia dapat mengurangi setoran tabungannya hingga dapat mencapai jumlah yang ia cita-citakan?

Jawab:

F = 8000

A = F (A1/F, i, n) + F (A2/F,i,n)

A = 8000 (A1/F, 4,5%,6) + 8000 ( A2/F, 5,5%,6)

A= 8000 (0,1489) + 8000 (0,2303)

A = $ 3033,6

 

3.       Sebuah perusahaan membeli sebuah gedung tua, biaya perawatan dan perbaikan secara  berturut-turut diantisipasi sebagai berikut $20.000 pada tahun ke 1, $5000 pada tahun ke 5, $8000 pada tahun ke 10 dan $6000 pada tahun ke 15.

Jika perusahaan memperkirakan akan menggunakan gedung tersebut selama 20 tahun. berapa nilai rata-rata tahunan pada tahun terakhir dengan tingkat suku bunga 7%

Jawab:

F1=20.000                                                    F3=8000

F2=5000                                                         F4=6000

A = F1 (A/F1,i,n) + F2(A/F2,i,n) + F3 (A/F3,i,n) + F4 (A/F4,i,n)

A = F1 (A/F1,7%,19) + F2(A/F2,7%,15) + F3 (A/F3,7%,10) + F4 (A/F4,7%,5)

A = 20.000 (0,0268) + 5000 (0,0398) + 8000 (0,0724) + 6000 (0,1739)

A = $ 2357,6

Review Buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia (Part 2)

Seperti yang telah saya katakan pada posting saya sebelumnya, saya akan melanjutkan review Buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia. Review berikutnya merupakan part 2 buku ini yang terdiri atas kisah-kisah pengalaman sukses agrotechnopreneur di Indonesia dan tantangan agrotechnopreneur di Indonesia.

Bab 3 pada buku ini menjelaskan perjalanan dan kiat-kiat beberapa tokoh agrotechnopreneur yang berhasil memajukan usahanya di kawasan ASEAN, pengembangan bisnis yang pada awalnya khusus dibangun dengan berorientasi pada pasar dalam negeri hingga dapat dipasarkan ke pasar global. Berikut ini saya akan menuliskan beberapa kisah sukses tokoh agrotecgnopreneur Indonesia, yakni Bob Sadino dan Keluarga Sosrodjojo.

 “Memulai dari mencari apa yang diinginkan pasar bukan dimulai dari menanam di lahan, yang belum tentu ada pasarnya” –Bob Sadino

Bob Sadino merupakan bukan hanya seorang pionir agribisnis di Indonesia, namun beliau adalah innovator dan motivator. Bisnis beliau dirintis sepulangnya sebagai awak kapal di AS, dengan modal sendiri dan bantuan teman untuk memelihara 50 ekor ayam ras petelur. Penjualan dilakukan dari pintu ke pintu di daerah Kemang, Jakarta. Berkat ketekunannya beliau berhasil menggaet pelanggan para ekspatriat daerah Kemang. Dari keberhasilan tersebut, Bob membangun supermarket Kem Chicks, yang menjual beragam produk agribisnis dan agroindustri bermutu tinggi. Pengembangan agribisnisnya menggunakan format yang modern dan berfokus pada segmen menengah ke atas. Bob mampu meyakinkan konsumen karena komoditas dan produk yang dipasarkannya bermutu tinggi.

“Teh Botol dengan Invensi dan Inovasi Asli Indonesia”-Keluarga Sosrodjojo

Invensi dan inovasi yang dilaksanakan keluarga Sosrodjojo dalam bidang minuman teh manis dalam botol merupakan salah satu teknologi proses dalam agroindustri yang sangat membanggakan Indonesia. Inovasi awal pemasaran Teh Cap Botol dilakukan melalui program Cicip Rasa.  Dalam program tsb, Teh Cap Botol mulai diseduh untuk dicicipi pengunjung, serta diberikan sampel untuk dibawa pulang. Namun, karena waktu penyeduhan lama yakni 30 menit dan pengunjung tidak bisa dipertahankan keberadaanya, maka diciptakan inovasi baru.  Akhirnya ditemukan cara cukup sederhana dan efektig, yakni air teh yang telah diseduh dimasukkan ke dalam bool-botol yang telah dicuci. Pada tahun 1969, Keluarga Sosrodjojo menjual teh siap minum dalam kemasan botol. Seiring dengan perkembangan bisnis perusahaan yang semakin besar, teh botol tidak hanya dipasarkan di luar negeri, tetapi di luar negeri yakni di pasar ASEAN dan Timur Tengah. Kiat bisnis Keluarga Sosrodjojo adalah peduli terhadap kualitas, keamanan, kesehatan serta ramah lingkungan. Walau banyak tawaran akuisisi dari pihak perusahaan multinasional, tetapi hingga saat ini perusahaan tetap bertahan sebagai milik Keluarga Sosrodjojo dari Sleman, Indonesia.

Penyajian kisah-kisah sukses ini bertujuan agar pengalaman dan kiat-kiat keberhasilan mereka dapat menjadi inspirasi bagi para agrotechnopreneur Indonesia untuk memajukan agribisnis, agroindustri dan agroturisme Indonesia serta menjadi “lesson learned” bagi agrotechnopreneur muda Indonesia di masa mendatang.

Bab selanjutanya membahas mengenai tantangan dan peluang bisnis Agrotechnopreneur Indonesia. Permasalahan awal pengembangan Agrotechnopreneur di Indonesia disebabkan dampak krisis keuangan AS yang dimulai tahun 2006 mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi global secara signifikan. Walau demikian, dampak krisis keuangan global tidak terlalu berpengaruh di Indonesia maupun di RRC dan Cina yang masih memiliki tingkat perkembangan PDB positif. Walau demikian, krisis keuangan global berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dan penurunan ekspor Indonesia.

Selain hal tersebut permasalahan yang dihadapi ialah permasalahan pertanian dan pangan di Indonesia yakni Indonesia yang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangan sehingga dilakukan impor dengan nilai antara USD 4,0-6,0 miliar per tahun (BPS, 2009). Hal tersebut disebabkan terbatasnya kemajuan dalam revitalisasi pertanian yang disebabkan oleh keterlibatan masyarakat yang masih terbatas, inkonsistensi kebijakan, fokus program yang belum tuntas atau lambat dilaksanakan dan pelksanaan revitalisasi pertanian yang belum menyeluruh dan lebih terfokus pada komoditas-komoditas politik yang menimbulkan kecemasan pasokan saat terjadi kelangkaan produksi.

Pada buku ini dibahas mengenai tantangan dan peluang peningkatan kinerja agribisnis dalam beberapa bidang, diantaranya aribisnis sayuran dan buah-buahan, bencana alam, bisnis pupuk, peternakan, komoditas perikanan laut, bisnis rumput laut, furniture, bisnis pellet kayu dan bisnis energi alternatif. Saya tidak akan mereview semuanya, namun hanya pada beberapa yang saya anggap menarik yakni industri pellet kayu. Sebelumnya saya belum pernah mendengar mengenai prospek usaha bisnis ini, oleh karenanya saya tertarik untuk membahasnya.

Industri Pelet Kayu 

Pelet kayu adalah salah satu jenis kayu bakar, yang umumnya dibuat dari serbuk gergaji yang dipadatkan, Pelet kayu biasanya diproduksi sebagai bisnis tambahan dari industri penggergajian kayu atau industry kayu lainnya. Pelet kayu luar biasa padat dan kompak, kadar air dibawah 10%, mudah dibakar pada tungku pembakaran atau tanaur dengan efisiensi tinggi. Bentuk pellet kayu yang padat dan ringkas juga memudahkan untuk disimpan dan ditransportasikan. Dengan meroketnya harga minyak bumi, permintaan pellet kayu di negara-negara Eropa meningkat tajam. Penggunaan pellet kayu mengurangi biaya konsumsi energy 35-50% dibanding biaya konsumsi BBM.

Pada saat ini telah banyak diproduksi kompor pellet kayu dan boiler pellet kayu dengan efisiensi pembakaran yang tinggi, yakni diatas 90%. Pembakaran pelet kayu hanya menghasilkan emisi NOx dan Sox rendah, dan dianggap ramah lingkungan. Walau demikian masalah yang masih ada ialah timbulnya emisi debu halus.

Di Indonesia sendiri, pemerintah Indonesia telah mengabulkan permohonan pendirian pabrik pelet kayu di Wonosobo dengan nilai investasi USD 6 juta. Perusahaan tersebut memiliki lahan perkebunan kayu di Pulau Jawa dan Sumatra. Kapasitas produksi pabrik tersebut adalah 10 ton pelet kayu per jam. Perusahaan lainnya yang juga mendirikan pabrik pelet kayu ialah Medco Group dengan kapasitas produksi per tahu 200000 ton pelet kayu per tahun, dengan nilai investasi Rp. 922 miliar. Investasi pelet kayu di Indonsia dinilai masih luas pasarnya melimpah bahan bakunya menyebabkan industri ini memiliki prospek yang cukup cerah.

Demikianlah review mengenai buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia ini baik part 1 maupun part 2. Diharapkan dari review tersebut dapat membuka wawasan anda sekalian yang membacanya untuk tertarik dalam memulai dan mengembangkan agribisnis dan agrotechnopreneurship di Indonesia karena di tengah persaingan global yang semakin ketat upaya untuk mengambangkan usaha berbasis agribisnis dan agroindustri dapat menjadi peluang sekaligus harapan bagi tercapainya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Sumber : E.Gumbira-Sa’id. 2010. Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia. Bogor : IPB Press.

Sampai jumpa di review buku yang selanjutnya🙂