Review Buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia (Part 1)

“Entrepreneur are economic agents who transforms resources into goods and services, thereby creating an environment conducive to industrial growth” –Carl Menger (1871)

Ungkapan diatas merupakan salah satu petikan mengenai kewirausahaan banyak dibahas dalam buku ini. Dalam buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia karangan E. Gumbira-Sa’id ini, penulis mengangkat tema mengenai Agrotechnopreneurship dalam buku ini. Agrotechnopreneur adalah wirausahawan dalam bidang agribisnis yang menggunakan teknologi sebagai faktor dalam mentaransformasikan sumber daya menjadi barang dan jasa dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan industri dalam perekonomian nasional.

Buku ini secara keseluruhan terdiri atas 4 bab yang membahas secara runtut mengenai konsepsi dasar agrotechnopreneurship, wawasan bisnis global bagi agrotechnopreneursip, pengalaman-pengalaman keberhasilan agrotechnopreneur ASEAN, dan tantangan serta peluang bisnis Agrotechnopreneur di Indonesia. Bab-bab tersebut dibahas secara padat dan berurut sehingga dapat dijadikan sebagai suatu bahan acuan bagi agrotechnopreneur di Indonesia.

Dalam bab pertama mengenai konsepsi dasar agrotechnipreneurship dijelaskan bahwa istilah agrotechnopreneuship sendiri baru muncul di awal tahun 2000-an. Istilah yang lebih awal muncul ialah Agribisnis yang mucul tahun 1956 kemudian disusul oleh istilah Agroindustri pada tahun 1980-an. Istilah agrotechnopreneur muncul karena marakya penggunaan istilah technopreneur di bidang bisnis berbasis teknologi. Berdasarkan batasannya, agropreneurship ialah berbaai upaya yang dilakukan pihak-pihak, khususnya wirausaha, dalam memanfaatkan peluang industry agribisnis (Brathwaite, 2009).

Istilah Agrotechnopreneur sangat terkait dengan Agropreneur. Untuk menjadi seorang Agrepreneur, seorang petani atau pihak lain harus menjamin bahwa komoditas atau produknya diberi nilai lebih tinggi oleh konsumen akhir, dengan suatu pendekatan bisnis. Seorang agrepreneur harus memiliki cara berpikir dan bertindak sebagai seorang wirausahawan. Agrotechnopreneur ialah Agropreneur yang berbasis teknologi.  Dari sudut pandang terminologi, agrotechnopreneurship ialah kemampuan dalam mengelola suatu usaha di sektor agribisnis/agroindustri melalui pemanfaatan teknologi serta mengedepankan inovasi dalam upaya pengembangan bisnisnya. Agrotechnopreneurship terdiri atas tiga komponen yang saling terkait, yaitu kapasitas litbang, kewirausahaan dan venture capital. Jadi, keberhasilan seorang Agrotechnopreneur ditentukan oleh 3 faktor, yakni inovasi, prospek dan pengembangan bisnis, serta penyediaan capital baik dana inisiasi maupun kapital lanjutan.

 

Dalam Bab kedua mengenai wawasan bisnis global dijelaskan bahwa dalam bisnis global yang kompetitif terdapat dua hal mendasar yakni para pelaku yang selalu mengutamakan profitabilitas tinggi serta memperoleh peningkatan pangsa pasar. Di lain pihak, konsumen menutamakan atribut manfaat fungsional dari sebuah produk seperti mutu, jaminan kesehatan, estetika, dan durability. Untuk menjembatan dua hal tersebut perlu dilakukan perancangan produk sebagai strategi dan seni dalam berbisnis (Art of business). Salah satu terobosan yang dimunculkan ialah teknologi yang memanfaatkan Prinsip-Prinsip Faktor Empat (Factor Four Principles) yang konsepnya menggunakan bahan baku setengahnya untuk meghasilkan nilai produk dua kalinya (2×2 =4). Konsep tersebut menfaatkan 3 landasan aktivitas dalam industry manufaktur, yaitu : teknologi, rekasa dan desain. Implementasinya dikenal dengan perancangan produk eko-efektif, ditujukan untuk menciptakan nilai produk tinggi, sekaligus penghematan sumber daya.

Dalam globalisasi, keunggulan yang harus dimiliki ialah keunggulan kompetitif, yang lahir dari pengusaha inovatif, bukan dari keunggulan komparatif yang nilai tambahnya kecil. Untuk memperoleh keberhasilan bisnis dari inovasi teknologi diperlukan pendekatan berbasis kompetensi terhadap manajemen teknologi, yang memerlukan analisis struktur organisasi dan prosesnya. Pengusaha yang inovatif akan mengintegrasikan perubahan secara inovatif pada teknologi, pasar dan organisasinya secara simultan dalam perencanaan strategisnya. Selain pengusaha yang inovatif juga diperlukan organisasi perusahaan yang inovatif dan sanggup bersaing di pasar global. Untuk membangun organisasi agribisnis dan agroindustri yang inovatif, pengusaha wajib memiliki visi, kemampuan memimpin dan memiliki keinginan inovasi yang kuat. Langkah berikutnya ialah membangun tim-tim kerja internal yang sinergis dan efektif.

Hal yang tidak kalah penting ialah permasalahan implementasi Good Governance di negara tersebut. Good governance terkait dengan pola dasar pemerintahan yakni transparansi, pertanggungjawaban yang jelas (accountability), pengimpelmentasian kebijakan, terutama yang berhubungan dengan perekonomian yang berorientasi pasar. Hal tersebut mengakibatkan berbagai keputusan yang menyangkut bisnis dan industry tidak didasarkan pada prinsip-prinsip yang tepat. Oleh karenanya implementasi konsep Good Governance di Indonesia perlu dilakukan secepat dan sebaik mungkin diantaranya untuk mengatasi ketimpangan seperti diberlakukannya perdagangan bebas dengan Cina.

Selain hal tersebut untuk dapat bersaing dalam bisnis global, inadonesia harus melakukan resturkturisasi industry yang seyogyanya ditujukan pada orientasi pembanguanan berkelanjutan. Slah satu alternatifnya ialah pembangunan kawasan industir berkelanjutan. Adanya kawasan industry berkelanjutan yang terintegrasi antara industry hulu dan hilir memnungkinkan adanya kemudahan proses alih teknologi. Apila dikaji berdasarkan prinsip fakto empat, kawasan industry berkelanjutan dapat meningkatkan efisiensi bisnis yang memperhatikan peningkatan nilai tambahm pelestarian sumber daya maupun lingkungan.

Hal yang juga tak kalah penting dalam bisnis global ialah ekofisiensi sarana kompetisi global yakni dengan adanya manajemen produksi bersih agar kelestarian bumi tetap dapat dipertahankan. Serta suatu tanggung jawab usaha (CSR) yakni peningkatan kesejahteraan semua pihak. Secara langsung, kinerja optimal dan keberhasiilan pemasaran meningkatakan penjualan, keuntungan, dan kesejahteraan karyawan dan perusahaan. Dengan analogi yang sama imbas peningkatan kesejahteraan perusahaan dan karyawan  berdampak pada penularan kesejahteraaan ekonomi masyarakat di sekitarnya dan di wilayah tempat usaha tersebut berada.

Demikian review part 1 yang akan berlanjut ke review  part 2 pada postingan saya selanjutnya……

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s