Review Buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia (Part 2)

Seperti yang telah saya katakan pada posting saya sebelumnya, saya akan melanjutkan review Buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia. Review berikutnya merupakan part 2 buku ini yang terdiri atas kisah-kisah pengalaman sukses agrotechnopreneur di Indonesia dan tantangan agrotechnopreneur di Indonesia.

Bab 3 pada buku ini menjelaskan perjalanan dan kiat-kiat beberapa tokoh agrotechnopreneur yang berhasil memajukan usahanya di kawasan ASEAN, pengembangan bisnis yang pada awalnya khusus dibangun dengan berorientasi pada pasar dalam negeri hingga dapat dipasarkan ke pasar global. Berikut ini saya akan menuliskan beberapa kisah sukses tokoh agrotecgnopreneur Indonesia, yakni Bob Sadino dan Keluarga Sosrodjojo.

 “Memulai dari mencari apa yang diinginkan pasar bukan dimulai dari menanam di lahan, yang belum tentu ada pasarnya” –Bob Sadino

Bob Sadino merupakan bukan hanya seorang pionir agribisnis di Indonesia, namun beliau adalah innovator dan motivator. Bisnis beliau dirintis sepulangnya sebagai awak kapal di AS, dengan modal sendiri dan bantuan teman untuk memelihara 50 ekor ayam ras petelur. Penjualan dilakukan dari pintu ke pintu di daerah Kemang, Jakarta. Berkat ketekunannya beliau berhasil menggaet pelanggan para ekspatriat daerah Kemang. Dari keberhasilan tersebut, Bob membangun supermarket Kem Chicks, yang menjual beragam produk agribisnis dan agroindustri bermutu tinggi. Pengembangan agribisnisnya menggunakan format yang modern dan berfokus pada segmen menengah ke atas. Bob mampu meyakinkan konsumen karena komoditas dan produk yang dipasarkannya bermutu tinggi.

“Teh Botol dengan Invensi dan Inovasi Asli Indonesia”-Keluarga Sosrodjojo

Invensi dan inovasi yang dilaksanakan keluarga Sosrodjojo dalam bidang minuman teh manis dalam botol merupakan salah satu teknologi proses dalam agroindustri yang sangat membanggakan Indonesia. Inovasi awal pemasaran Teh Cap Botol dilakukan melalui program Cicip Rasa.  Dalam program tsb, Teh Cap Botol mulai diseduh untuk dicicipi pengunjung, serta diberikan sampel untuk dibawa pulang. Namun, karena waktu penyeduhan lama yakni 30 menit dan pengunjung tidak bisa dipertahankan keberadaanya, maka diciptakan inovasi baru.  Akhirnya ditemukan cara cukup sederhana dan efektig, yakni air teh yang telah diseduh dimasukkan ke dalam bool-botol yang telah dicuci. Pada tahun 1969, Keluarga Sosrodjojo menjual teh siap minum dalam kemasan botol. Seiring dengan perkembangan bisnis perusahaan yang semakin besar, teh botol tidak hanya dipasarkan di luar negeri, tetapi di luar negeri yakni di pasar ASEAN dan Timur Tengah. Kiat bisnis Keluarga Sosrodjojo adalah peduli terhadap kualitas, keamanan, kesehatan serta ramah lingkungan. Walau banyak tawaran akuisisi dari pihak perusahaan multinasional, tetapi hingga saat ini perusahaan tetap bertahan sebagai milik Keluarga Sosrodjojo dari Sleman, Indonesia.

Penyajian kisah-kisah sukses ini bertujuan agar pengalaman dan kiat-kiat keberhasilan mereka dapat menjadi inspirasi bagi para agrotechnopreneur Indonesia untuk memajukan agribisnis, agroindustri dan agroturisme Indonesia serta menjadi “lesson learned” bagi agrotechnopreneur muda Indonesia di masa mendatang.

Bab selanjutanya membahas mengenai tantangan dan peluang bisnis Agrotechnopreneur Indonesia. Permasalahan awal pengembangan Agrotechnopreneur di Indonesia disebabkan dampak krisis keuangan AS yang dimulai tahun 2006 mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi global secara signifikan. Walau demikian, dampak krisis keuangan global tidak terlalu berpengaruh di Indonesia maupun di RRC dan Cina yang masih memiliki tingkat perkembangan PDB positif. Walau demikian, krisis keuangan global berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dan penurunan ekspor Indonesia.

Selain hal tersebut permasalahan yang dihadapi ialah permasalahan pertanian dan pangan di Indonesia yakni Indonesia yang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangan sehingga dilakukan impor dengan nilai antara USD 4,0-6,0 miliar per tahun (BPS, 2009). Hal tersebut disebabkan terbatasnya kemajuan dalam revitalisasi pertanian yang disebabkan oleh keterlibatan masyarakat yang masih terbatas, inkonsistensi kebijakan, fokus program yang belum tuntas atau lambat dilaksanakan dan pelksanaan revitalisasi pertanian yang belum menyeluruh dan lebih terfokus pada komoditas-komoditas politik yang menimbulkan kecemasan pasokan saat terjadi kelangkaan produksi.

Pada buku ini dibahas mengenai tantangan dan peluang peningkatan kinerja agribisnis dalam beberapa bidang, diantaranya aribisnis sayuran dan buah-buahan, bencana alam, bisnis pupuk, peternakan, komoditas perikanan laut, bisnis rumput laut, furniture, bisnis pellet kayu dan bisnis energi alternatif. Saya tidak akan mereview semuanya, namun hanya pada beberapa yang saya anggap menarik yakni industri pellet kayu. Sebelumnya saya belum pernah mendengar mengenai prospek usaha bisnis ini, oleh karenanya saya tertarik untuk membahasnya.

Industri Pelet Kayu 

Pelet kayu adalah salah satu jenis kayu bakar, yang umumnya dibuat dari serbuk gergaji yang dipadatkan, Pelet kayu biasanya diproduksi sebagai bisnis tambahan dari industri penggergajian kayu atau industry kayu lainnya. Pelet kayu luar biasa padat dan kompak, kadar air dibawah 10%, mudah dibakar pada tungku pembakaran atau tanaur dengan efisiensi tinggi. Bentuk pellet kayu yang padat dan ringkas juga memudahkan untuk disimpan dan ditransportasikan. Dengan meroketnya harga minyak bumi, permintaan pellet kayu di negara-negara Eropa meningkat tajam. Penggunaan pellet kayu mengurangi biaya konsumsi energy 35-50% dibanding biaya konsumsi BBM.

Pada saat ini telah banyak diproduksi kompor pellet kayu dan boiler pellet kayu dengan efisiensi pembakaran yang tinggi, yakni diatas 90%. Pembakaran pelet kayu hanya menghasilkan emisi NOx dan Sox rendah, dan dianggap ramah lingkungan. Walau demikian masalah yang masih ada ialah timbulnya emisi debu halus.

Di Indonesia sendiri, pemerintah Indonesia telah mengabulkan permohonan pendirian pabrik pelet kayu di Wonosobo dengan nilai investasi USD 6 juta. Perusahaan tersebut memiliki lahan perkebunan kayu di Pulau Jawa dan Sumatra. Kapasitas produksi pabrik tersebut adalah 10 ton pelet kayu per jam. Perusahaan lainnya yang juga mendirikan pabrik pelet kayu ialah Medco Group dengan kapasitas produksi per tahu 200000 ton pelet kayu per tahun, dengan nilai investasi Rp. 922 miliar. Investasi pelet kayu di Indonsia dinilai masih luas pasarnya melimpah bahan bakunya menyebabkan industri ini memiliki prospek yang cukup cerah.

Demikianlah review mengenai buku Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia ini baik part 1 maupun part 2. Diharapkan dari review tersebut dapat membuka wawasan anda sekalian yang membacanya untuk tertarik dalam memulai dan mengembangkan agribisnis dan agrotechnopreneurship di Indonesia karena di tengah persaingan global yang semakin ketat upaya untuk mengambangkan usaha berbasis agribisnis dan agroindustri dapat menjadi peluang sekaligus harapan bagi tercapainya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Sumber : E.Gumbira-Sa’id. 2010. Wawasan, Tantangan dan Peluang Agrotechnopreneur Indonesia. Bogor : IPB Press.

Sampai jumpa di review buku yang selanjutnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s