Konser-Konser Musik Internasional di Jakarta


Kota Jakarta, tidak dapat dipungkiri telah menjadi suatu kota yang aktif dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Terutama di bidang musik, yakni dalam hal penyelenggaraan konser-konser music musisi kelas dunia yang hampir semuanya diselenggarakan di Jakarta.

Jakarta, sebagai ibukota telah menjelma menjadi pusat semua kegiatan ekonomi. Arus perputaran uang sangat cepat terjadi. Masyarakat berbagai kalangan tinggal di Jakarta, dari kalangan jetset, menengah, hingga yang masih berada di level ekonomi bawah pun hidup di Jakarta. Berbagai aktivitas dilakukan di kota ini. Tak hanya sekedar aktivitas ekonomi dan perdagangan saja, perkantoran, bahkan aktivitas seni pun mulai menunjukkan geliatnya dalam arus perputaran ekonomi kota Jakarta.

Seni, semua manusia membutuhkannya. Sungguh tidak jujur bila seorang berkata dalam hidupnya dia tidak butuh seni. Karena hampir semua lingkungan di sekitarnya adalah seni. Guruh Soekarno Putra berkata “tanpa seni, dunia hampa”, ada benarnya.

Hal ini dilihat oleh para promoter music atau orang-orang yang bergerak dalam penyelenggaraan konser-konser music sebagai suatu peluang bisnis. Di tengah kehampaan rutinitas kerja Kota Jakarta pasti banyak menimbulkan rasa kejenuhan, terutama bagi para aktivisnya yang terdiri atas para eksekutif muda dan kalangan menengah atas dan salah satu penghilang rasa jenuh itu ialah performance music, dengan segala atraksi dan hiburan yang ditampilkan oleh para pekerja seni.

Selalu saya pertanyakan kenapa konser musisi kelas dunia selalu dan hampir selalu dilakukan di Jakarta. Mengapa tidak di Bandung? Kota saya saat ini sedang menimba ilmu sebagai mahasiswa. Karena hampir setiap konser dilakukan di Jakarta, hal ini menimbulkan kesulitan bagi saya, sebagai penikmat music untuk menonton konser yang saya inginkan di Jakarta di tengah rutinitas kuliah yang begitu padat.

Saya baru mengerti setelah saya melihat bahwa memang peluang menjadi penyelenggara konser di Jakarta cukup menggiurkan, terutama dari segi penjualan tiket yang tentu saja lebih mudah dilakukan di Jakarta, sebagai pusatnya. Harga tiket konser, seperti kita ketahui tidak terlalu murah. Untuk mendapatkan satu tiket kelas tribun, seorang penonton harus merogoh kocek minimal 350.000-500.000 (tergantung konsernya), dan untuk kelas diatasnya harus dirogoh kocek yang lebih dalam lagi. Saya mendengar dari teman saya, bahwa untuk mendapatkan satu tiket tribun Konser Hitman David Foster harus merogoh kocek hingga 1,3 juta. Angka yang fantastis untuk suatu tiket konser kelas tribun.

Hanya orang-orang kalangan menengah keatas sajalah yang dapat membelinya. Itu pointnya. Memang tidak semua kalangan menengah keatas tinggal di Jakarta, ada pula yang tinggal di Bandung dan kota-kota penyangga Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor. Namun, pada zaman dimana transportasi begitu mudah, tentu saja akan lebih mudah bila konser dilakukan di Jakarta, sebab begitu banyak kendaraan transportasi yang tersedia untuk menuju Jakarta. Apalagi setelah dibangunnya tol Cipularang. Banyak orang bilang, jarak Jakarta-Bandung hanya 2 jam saja.

Selain hal tersebut hal yang menndukung penyelenggaraan Konser di Jakarta ialah tersedianya berbagai Concert Hall berkapasitas besar untuk dijadikan lokasi konser. Diantaranya JCC, TIM, Gedung Kesenian Jakarta, Hailai, Tennis Indoor Senayan, Istrora dll. Rata-rata lokasi tersebut berlokasi strategis dan mudah dijangkau dengan catatan tidak terjadi kemacetan parah. Di Bandung saja saat ini, lokasi yang cocok dijadikan Concert Hall hanyalah Sabuga saja, yang digunakan untuk konser Maher Zein. Namun, lokasi Sabuga bisa dikatakan tidak strategis karena jauh dari pusat kota, akses tol dan rawan kemacetan.

Oleh karenanya wajar saja, bila Jakarta memang menjadi pusat konser musisi dunia. Hal ini patut kita syukuri pula, sebab setelah dilanda isu travel warning beberapa tahun lalu akibat peristiwa terror bom, bencana alam dll, Indonesia sepi konser musisi internasional. Bahkan para promoter pun mengeluhkan sulitnya mendatangkan artis/musisi Internasional ke Indonesia. Namun saat ini, musisi datang dan pergi dalam hitungan jam di Kota Jakarta, dengan perputaran uang dapat mencapai angka ratusan juta rupiah. Dalam hal ini, dapat diberi contoh Owl City, hanya tampil selama dua jam di Tennis Indoor Senayan Oktober lalu, berapa uang yang beputar selama konser itu?? Kota Jakarta telah menjadi kota transit bagi musisi Internasional. Luar biasa. So who is next??? J


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s